cLock

Kamis, 02 Juni 2011

Bakteri



?Bakteri
Esccherichia coli, salah satu bakteri berbentuk batang
Domain:
Bakteri
Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok besar Prokariota, selain Archaea, yang berukuran sangat kecil serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana: tanpa nikleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondraia dan kloroplas. Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, yang disebut eukariota. Istilah "bakteri" telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk sebagian besarnya, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, meski ada beberapa jenis tertentu yang dapat berdiameter hingga 0,3 mm (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dindind sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Beberapa jenis bakteri bersifat motil (mampu bergerak) dan mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel.
Sejarah
Keberadaan bakteri pertama kali ditemukan oleh Anatony van Leeuwenhoek pada 1674 dengan menggunakan mikrokop  buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan di kemudian hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828, diambil dari kata Yunani βακτηριον (bakterion) yang memiliki arti "batang-batang kecil". Pengetahuan tentang bakteri berkembang setelah serangkaian percobaan yang dilakukan oleh Louis Pasteur, yang melahirkan cabang ilmu mokrobiologi. Bakteriologi adalah cabang mikrobiologi yang mempelajari biologi bakteri.
Struktur sel

Struktur sel bakteri
Seperti prokariota (organisme yang tidak memiliki membran inti) pada umumnya, semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Struktur bakteri yang paling penting adalah dinding sel. Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang tersusun dari lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teikoat. Sementara bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar dari lipopolisakarida: terdiri dari membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis dan terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasma).
Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagel dan fimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsula atau lapisan lendir yang membantu pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan struktur Biofilm. Bakteri juga memiliki kromosom, ribosom, dan beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan, vakuola gas, dan magnetosom. 
Beberapa bakteri mampu membentuk diri menjadi endospra yang membuat mereka mampu bertahan hidup pada lingkungan ekstrem.
Morfologi/bentuk bakteri
Berbagai bentuk tubuh bakteri
Berdasarkan berntuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:
  • Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
    • Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
    • Diplococcus, jka bergandanya dua-dua
    • Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujursangkar
    • Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
    • Staphylococcus, jika bergerombol
    • Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
  • Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:
    • Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
    • Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
  • Spiril (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:
    • Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran
    • Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
Bentuk tubuh/ morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia. Oleh karena itu untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus sama. Pada umumnya bakteri yang usianya lebih muda ukurannya relatif lebih besar daripada yang sudah tua.
Alat gerak bakteri
Gambar alat gerak bakteri:
 A-Monotrik;
 B-Lofotrik;
C-Amfitrik;
D-Peritrik.
Banyak spsies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil, tebalnya 0,02 – 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
  • Atrik, tidak mempunyai flagel.
  • Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
  • Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
  • Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
  • Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
Pengaruh lingkungan terhadap bakteri
Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, kelembaban, dan cahaya. 

Suhu
Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan:
  • Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30 °C, dengan suhu optimum 15 °C.
  • Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55 °C, dengan suhu optimum 25° – 40 °C.
  • Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75 °C, dengan suhu optimum 50 - 65 °C
Pada tahun 1967 di Yellow Stone Park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air panas bersuhu 93° – 500 °C.
Kelembaban udara
Pada umumnya bakteri memerlukan kelembaban udara yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan.
Cahaya
Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mokrorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan.  
Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya.
Radiasi
Radiasi pada kekuatan tertentu dapat menyebabkan kelainan dan bahkan dapat bersifat letal bagi makhluk hidup, terutama bakteri. Sebagai contoh pada manusia, radiasi dapat menyebabkan penyakit hati akut, katarak, hipertensi, dan bahkan kanker. Akan tetapi, terdapat kelompok bakteri tertentu yang mampu bertahan dari paparan radiasi yang sangat tinggi, bahkan ratusan kali lebih besar dari daya tahan manusia tehadap radiasi, yaitu kelompok Deinococcaceae. Sebagai perbandingan, manusia pada umumnya tidak dapat bertahan pada paparan radiasi lebih dari 10 Gray (Gy, 1 Gy = 100 rad), sedangkan bakteri yang termasuk dalam kelompok ini dapat bertahan hingga 5.000 Gy. Pada umumnya, paparan energi radiasi dapat menyebabkan mutasi gen dan putusnya rantai DNA. Apabila terjadi pada intensitas yang tinggi, bakteri dapat mengalami kematian. Deinococcaceae radiodurans memiliki kemampuan untuk bertahan terhadap mekanisme perusakan materi genetik tersebut melalui sistem adaptasi dan adanya proses perbaikan rantai DNA yang sangat efisien.
Peranan Bakteri
a.  Bakteri menguntungkan
Bakteri pengurai
Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat  dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organik.
Bakteri nitrifikasi
Bakteri nitrifikasi adalah kelompok bakteri yang mampu menyusun senyawa nitrat dari senyawa amonia yang pada umumnya berlangsung secara aerob di dalam tanah. Kelompok bakteri ini bersifat kemolitotrof. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:
  • Nitritasi: oksidasi amonia menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dilakukan oleh kelompok bakteri Nitrosomonas dan Nitrosococcus.
Reaksi nitritasi
  • Nitratasi: oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Proses ini dilakukan oleh kelompok bakteri Nitrobacter.
Reaksi nitratasi
Dalam bidang pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat.

Bakteri nitrogen
Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrum. Bakteri nitrogen yang hidup bersimbiosis dengan tanaman polong-polongan yaitu Rhizobium leguminosarum, yang hidup dalam akar membentuk nodul atau bintil-bintil akar. Tumbuhan yang bersimbiosis dengan Rhizobium banyak digunakan sebagai pupuk hijau seperti Crotalaria, Tephrosia, dan Indigofera. Akar tanaman polong-polongan tersebut menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.
Bakteri usus
Bakteri Escherichia coli   yang hidup di kolon (usus besar) manusia memiliki peranan dalam membantu pencernaan dan menghasilkan beberapa jenis vitamin seperti vitamin B12 dan vitamin K, yang penting dalam proses pembekuan darah.  Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu mencernakan selulosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh dinding usus.
Bakteri fermentasi
Beberapa makanan hasil fermentasi dan mikroorganisme yang berperan:
No.
Nama produk atau makanan
Bahan baku
Bakteri yang berperan
1.
Yoghurt
susu
2.
Mentega
susu
3.
Terasi
ikan
4.
Asinan buah-buahan
buah-buahan
5.
Sosis
daging
6.
Kefir
susu

Bakteri penghasil antibiotik
A ntibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:
b.  Bakteri merugikan
Bakteri perusak makanan
Beberapa spesies pengurai dapat tumbuh di dalam makanan. Kelompok bakteri ini mampu memetabolisme berbagai komponen di dalam makanan dan kemudian menghasilkan metabolit sampingan yang bersifat racun. Racun tersebut berbahaya bagi kesehatan manusia, namun seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, senyawa yang semula merupakan racun kini dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang industri. Clostridiun botalinum, menghasilkan racun botulinin, seringkali terdapat pada makanan kalengan dan racunnya dipakai sebagai bahan dasar botox. Beberapa contoh bakteri perusak makanan dan racun yang dihasilkannya:

    Bakteri denitrifikasi
    Jika oksigen dalam tanah kurang maka akan berlangsung denitrifikasi, yaitu nitrat direduksi sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. Contoh bakteri yang menyebabkan denitrifikasi adalah Micrococcus denitrificans dan Pseudomonas denitrificans.

    Bakteri patogen
    Merupakan kelompok bakteri parasit yang menimbulkan penyakit pada manusia, hawan, dan tumbuhan.
    Bakteri penyebab penyakit pada manusia:
    No.
    Nama bakteri
    Penyakit yang ditimbulkan
    1.
    Tifus
    2.
    Disentri basiler
    3.
    Kolera
    4.
    Influensa
    5.
    Pneumonia (radang paru-paru)
    6.
    TBC paru-paru
    7.
    Tetanus
    8.
    Meningitis (radang selaput otak)
    9.
    Gonorrhaeae (kencing nanah)
    10.
    Sifilis atau Lues atau raja singa
    11.
    Lepra (kusta)
    12.
    Puru atau patek


    Bakteri penyebab penyakit pada hewan:
    No.
    Nama bakteri
    Penyakit yang ditimbulkan
    1.
    Brucellosis pada sapi
    2.
    Mastitis pada sapi (radang payudara)
    3.
    Antraks
    4.
    Bengkak rahang pada sapi
    5.
    Penyakit pada ikan


    Bakteri penyebab penyakit pada tumbuhan:
    No.
    Nama bakteri
    Penyakit yang ditimbulkan
    1.
    Menyerang pucuk batang padi
    2.
    Menyerang tanaman kubis
    3.
    Penyakit layu pada famili terung-terungan
    4.
    Penyakit busuk pada buah-buahan

    Dekomposisi
    Bakteri bekerja secara terstruktur dalam proses degradasi organisme atau proses pembusukan mayat. Proses pembusukan berawal dari mikroorganisme, misalnya bakteri-bakteri yang hidup di dalam usus besar manusia. Bakteri tersebut mulai mendegradasi protein yang terdapat dalam tubuh. Jika seluruh jenis ikatan protein sudah terputus, beberapa jaringan tubuh menjadi tidak berfungsi. Proses ini disempurnakan bakteri yang datang dari luar tubuh mayat, dan dapat pula berasal dari udara, tanah, ataupun air. Seluruh jenis bakteri ini menyerang hampir seluruh sel di tubuh dengan cara menyerang sistem pertahanan tubuh yang tidak lagi aktif, menghancurkan jaringan otot, atau menghasilkan enzim penghancur sel yang disebut protease. Kemudian dengan berbagai jenis metabolisme, mikroorganisme mulai memakan jaringan mati dan mencernanya. Tak jarang kerja proses ini dibantu reaksi kimia alami yang terjadi dalam organisme mati.

    Bakteri heterotrof
    Tidak semua mikroorganisme mampu mendegradasi mayat. Kebanyakan mereka berasal dari jenis bakteri heterotrof. Bakteri ini membutuhkan molekul-molekul organik dari organisme lain sebagai nutrisi agar ia dapat bertahan hidup dan berkembang biak. Berbeda dengan bakteri autotrof yang mampu menghasilkan makanan sendiri dengan CO2 sebagai nutrisi makro serta bantuan dari cahaya matahari atau sumber energi kimia lainnya.

    Jenis bakteri heterotrof biasanya hidup dan berkembang biak pada organisme mati. Mereka mendapatkan energi dengan menguraikan senyawa organik pada organisme mati. Molekul-molekul besar seperti protein, karbihidrat, lemak, atau senyawa organik lain didekomposisi metabolisme tubuh bakteri tersebut menjadi molekul-molekul tunggal seperti asam amino, metana, gas CO2, serta molekul-molekul lain yang mengandung enam nutrisi utama bakteri, yaitu senyawa-senyawa karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), oksigen (O), fosfor (P), serta sufur (S).

    Kumpulan unsur organik
    Tubuh mayat adalah tempat hidup, sumber makanan, serta tempat berkembang biak bakteri-bakteri tersebut, karena tubuh terdiri dari kumpulan protein, karbohidrat, lemak, atau senyawa organik dan anorganik lain. Secara biologis, tubuh makhluk hidup (khususnya manusia) kumpulan dari unsur-unsur organik seperti C, H, N, O, P, S, atau unsur anorganik seperti K, Mg, Ca, Fe, Co, Zn, Cu, Mn, atau Ni. Keseluruhan unsur tersebut dibutuhkan bakteri heterotrof sebagai sumber nutrisi alias makanan utama mereka. Sementara cairan-cairan dengan pH (tingkat keasaman suatu larutan) tertentu yang berada dalam tubuh manusia adalah media kultur (lingkungan) pertumbuhan yang baik bagi bakteri-bakteri tersebut.
    Bau busuk
    Bau busuk dari tubuh mayat tidak hanya mengganggu, namun juga membahayakan. Pembusukan dimulai dengan pemutusan ikatan protein-protein besar pada jaringan tubuh oleh bakteri fermentasi menggunakan enzim protease. Kumpulan hasil pemutusan ikatan protein yang disebut asam amino ini dicerna berbagai jenis bakteri, misalnya bakteri acetogen. Bakteri ini mereaksikan asam amino dengan oksigen dalam tubuhnya untuk menghasilkan asam asetat, hidrogen, nitrogen, serta gas karbon dioksida. Produk asam asetat ini menimbulkan bau.
    Aasm asetat yang dihasilkan ini diproses kembali oleh bakteri jenismetanogen, misalnya Methanothermobacter thermoautotrophicum  yang biasa hidup di lingkungan kotor seperti selokan dan pembuangan limbah (septik tank). Asam asetat direaksikan dalam sel metanogen dengan gas hidrogen dan karbon dioksida untuk menghasilkan metana, air, dan karbon dioksida. Metana dalam bentuk gas juga menghasilkan bau busuk.
    Selain asam asetat dan gas metana, beberapa bakteri menghasilkan gas hidrogen sulfida yang baunya seperti telur busuk. Lebih dari itu, bau busuk mayat di lautan yang bercampur dengan uap garam bersifat racun karena mampu mereduksi konsentrasi elektrolit dalam tubuh.
    Produk berbahaya selain gas yang dihasilkan adalah cairan asam dan cairan lain yang mengandung protein toksik. Jika cairan-cairan ini sempat menginfeksi kulit yang luka atau terkena makanan, bukan hanya produk beracun yang dapat masuk ke dalam tubuh tetapi juga bakteri heterotrof patogen seperti clostridium.
    Bakteri serta produk beracun ini dapat menginfeksi manusia lewat kontaminasi makanan, minuman, atau luka di kulit. Karena adanya saluran masuk ini, berbagai penyakit sepert malaria, diare, degradasi sel darh merah, lemahnya sistem pertahanan tubuh, infeksi pada luka (tetanus), bengkak, atau infeksi pada alat kelamin menjadi ancaman yang serius.
    Cara mengatasi serangan mikroorganisme ini adalah dengan menjaga makanan dan minuman tetap steril, yaitu dengan dipanaskan. Mencuci tangan dan kaki dengan sabun antiseptik cair sebelum makan. Menjaga lingkungan agar steril dengan cara menyemprotkan obat pensteril.
    Bakteri-bakteri tersebut juga dapat dicegah pertumbuhannya dengan cara meminum obat antibiotik atau suntik imunitas. Sifat-sifat inilah yang harus dipahami dengan cara mengikuti prosedur standar penanganan mayat. Antara lain menggunakan masker standar minimal WHO (tipe N-95), memakai sarung tangan khusus, serta mencuci tangan sebelum dan sesudah mengangkat satu mayat. Langkah terbaik adalah segera menguburkan mayat. 

    Trivia
    • Jumlah bakteri di dunia diperkirakan sekitar 5 × 1030
    Daftar pustaka
    Referensi
    1.     ^ "Bacteria (eubacteria)". Taxonomy Browser. NCBI. Diakses pada 10 September 2008.
    2.    ^ Anesti V, McDonald IR, Ramaswamy M, Wade WG, Kelly DP, Wood AP. 2005. Isolation and molecular detection of methylotrophic bacteria occurring in the human mouth. Environ Microbiol 7(8):1227-38.
    3.    ^ Gallego V, Garcia MT, Ventosa A. 2005.Methylobacteriumvariabile sp. nov., a methylotrophic bacterium isolated froman aquatic environment. Int J Syst Evol Microbiol 55:1429-33.
    4.    ^ Pasamba EM, Demigillo RM, Lee AC. 2007. Antibiograms of pink pigmented facultative methylotrophic bacterial isolates fromvarious sources. Philipp Scient 44:47-56.
    5.    ^ Sorokin DY, Trotsenko YA, Doronina NV, Tourova TP, Galinski EA, Kolganova TV, Muyzer G. 2005. Methylohalomonas lacus gen. nov., sp. nov.and Methylonatrum kenyense gen. nov., sp. nov., methylotrophic gamma proteobacteria fromhypersaline lakes. Int J Syst Evol Microbiol 57: 2762–69.
    6.    ^ Shrieve DC, Loeffler JS. 2010. Human Radiation Injury. Halaman 105. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. ISBN: 978-1-60547-011-5
    7.    ^ a b Mattimore V, Battista JR. 1995. Radioresistance of Deinococcus radiodurans: Functions Necessary To Survive Ionizing Radiation Are Also Necessary To Survive Prolonged Desiccation. J Bacteriol 178(3): 633-637.
    8.    ^ Madigan MT (2009). Brock Biology of Microorganisms Twelfth Edition. hlm. 480-481.
    9.    ^ a b c Battista JR, Cox MM. 2005. Deinococcus radiodurans — the consummate survivor. Nat Rev Microbiol 3:882-892. doi:10.1038/nrmicro1264
    10. ^ a b c d Madigan MT (2009). Brock Biology of Microorganisms Twelfth Edition. hlm. 403-404.

    Rabu, 01 Juni 2011

    ANDROID 3.0

    Android adalah sistem operasi untuk telepon selular yang berbasis linux. android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk digunakan oleh bermacam peranti bergerak.

    Android 3.0 (Honeycomb)
    Android Haoneycomb di rancang khusus untuk tablet. Android versi ini mendukung ukuran layar lebih besar. User aianterface pada Heneycomb juga berbeda karena sudah di desain untuk tablet. Honeycomb ini juga mendukung multi prosesor dan juga akselerasi perangkat keras (hardwere) untuk grafis.

    Fitur yang tersedia di Android adalah :
    • Kerangka Aplikasi ; itu memungkinkan penggunaan dan penghapusan komponan yang tersedia.
    • Dalvik mesin virtural ; mesin virtural di optimalkan untuk perangkat mobile.
    • Grafis ; grafik di 2D dan grafis 3D berdasarkan pustaka OpenGL.
    • SQLite ; untuk menyimpan data.
    • Mendukung Media ; audio, vidio, dan berbagai format gambar (MPEG4, H.264, MP3, AAC, AMR, JPG, GIF)
    • GSM, Bluetooth, EDGE, 3G, dan WiFi (hardwere dependent)
    • Kamera, Global Positioning System (GPS), kompas, dan accelerometer (tergantung hardwere)

     Android 3.0 platform termasuk update set aplikasi standar yang di rancang untuk digunkan pada perangkat layar ukuran lebih besar. Android ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan unik dari aplikasi pada perangkat dengan ukuran layar lebih besar. Android juga dapat mematahkan Kegiatan aplikasi mereka ke dalam subkomponen disebut fragmen, kemudian menggabungkannya dalam berbagai cara untuk menciptakan pengalaman, dan menjadi lebih interaktif.

     Android 3.0 menawarkan serangkaaian update widget yang pengembangan dapat digunakan untuk cepat menambahkan jenis baru konten untuk aplikasi mereka. UI baru widget yang didesain ulang untuk digunakan pada layar yang lebih besar sepaerti tablet dan menggabungkan teme holografik baru UI. Android juga memungkinkan pengembangan pengambilan widget layar awal ke tngkat berikutnya,  lebih banyak menawarkan jenis konten dan cara baru interaksi dengan pengguna.


     Android 3.0 menawarkan renderer OpenGL hardwere-accelerated baru yang memberikan dorongan kinerja untuk banyak operasi grafis umum untuk aplikasi yang berjalan dalam kerangka android. Ketika renderer ini diaktifkan, operasi yang paling dalam Cavas, Paint, Xfermode, ColorFilter, Shader, dan Kamera akan dipercepet. Pengembangan dapat mengontrol bagaimana hardwere-akselerasi diterapkan pada setiap tingkat, dari memungkinkan global dari setiap aplikasi untuk memungkinkan Aktivitas spesifik dan Tampilan dalam aplikasi.

      Android 3.0 merupakam versi pertama dari platform dirancang untuk berjalan di kedua arsitektur, prosesor tnggal atau multicore. Berbagai perubahan di perpustakaan Bionic Dalvik VM,, dan di tempat lain menambahkan dukungan untuk multiprocessing simetris di lingkungan multicore. Optimasi ini dapat menguntungkan semua aplikasi, bahkan mereka yang single-threaded.

      Android 3.0 mencakup kerangka extensible DRM yang memungkinkan aplikasi mengelola dilindungi isi sesuai dengan berbagai mekanisme RDM yang mungkin tersedia pada perangkat. Untuk pengembangan aplikasi, kerangka menawarkan API, API konsisten terpadu yang menyederhanakan manajemen konten yang dilindungi, terlepas dari mesin RDM yang mendasarinya.

    Referensi 
    • http://www.infiteknologi.com/selular/apa-itu-anroid/
    • http://kabarit.com/2009/05/android-sistem-operasi-ponsel-buatan-google/
    • http://teknologi.vivanews.com/news/read/32278-google_android_akan_perkuat_aaapc
    • http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/03/11/13215035/siapa.bilang.operator.tak.serius.sambut.android
    • http://kompas.com
    • http://id.wikipedia.org/wiki/android_%28sistem_operasi%29
    • http://www.linuxfordevices.com/c/a/aNews/Android=30-details-leaked/
    • http://meratim.com/acer=iconia-a500-harga-dan-spesifikasi-tablet-murah-pesaing-ipad.html
    • http://developer.android.com/sdk/android-3.0-higlights.html

    ANALISA KADAR VITAMIN C PADA KANGKUNG (IPOMOEA REPTANS) SEGAR DAN DI REBUS DENGAN METODE IODIMETRI


    Nama    : Asri Wulandari
    NIM      : A.101.14.006

    A.  Definisi
    Iodimetri adalah suatu metode yang menetapkan kadar zat yang bersifat reduktor dengan zat yang bersifat oksidator.

    B.  Prosedur Kerja
    Asam askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H8O6 pemeriksaan serbuk atau hablur : putih atau agak kuning : tak berbau : rasa asam oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara, dalam larutan cepat teroksidasi.
    Kelarutan mudah larut dalam air : agak sukar larut dalam etanol (95%)  P : praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam benzen P.
    Identifikasi
    1.   Larutan 2% b/v mereduksi perlahan-lahan. Larutan kalium tembaga 2 tartat P dan jika di panaskan reduksi berlangsung lebih cepat.
    2.   Pada 2ml larutan 2% b/v tmbahkan 4 tetes larutan metil biru P, hangatkan hingga suhu 400C : terjadi warna biru tua dalam waktu 3menit berubah menjadi lebih muda atau hilang.
    3.   Larutkan 15mg dalam 15ml larutan asam triklorasetat P 5% b/v, tambahkan lebih kurang 200mg asam jerap P, kocok kuat-kuat selama 1menit, saring jika perlu, ulangi penyaringan hingga filtrat jernih. Pada 5ml filtrat tambahkan prol P, goyangkan perlahan-lahan hingga larut, panaskan di atas tangkas air pada suhu 500C terjadi warna biru.

    Suhu lebur lebih kurang 1900C
    Rotasi jenis antara 20,50C dan 21.50C : pengujian di lakukan dengan menggunakan larutan 10% b/v.
    Logam berat tidak lebih dari 20bpj, pengujian dilakukan menggunakan larutan 4% b/v.
    Sisa pemijaran tidak lebih dari 0,1%.
    Penetapan kadar : timbamg seksama 400mg larutan dalam campuran 100ml air bebas karbondioksida P dan 25ml H2SO4 (10% b/v) P. Titrasi dengan iodum 0.1Nmenggunakan indikator larutan kanji P.
    1ml idum 0,1N setara dengan 8,806mg C6H8O6
    Penyimpanan dalam wadah rapat terlindungi dari cahaya.
    Khasiat dan penggunaan Antiskorbat.
    (Farmakope Indonesia edisi III.hal 46.1979.Departemen kesehatan)
    C.  Cara Kerja
    1.     Uji Kualitas
    a.      Sampel
    Timbang lebih kurang 100gram bahan dan hacurkan dengan blender sampai di dapat filtrat, lalu lakukan uji kualitatif.
    b.      Prosedur Sampel
    1)      Uji FeCl3
    Filtrat + FeCl3                     warna ungu
    Uji FeCl3 psitif ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu.
    2)      Uji Fehling
    Filtrat + Fehling A + Fehling B                     endapan merah bata.
    Uji Fehling positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah bata.
    3)      Uji Cuprifield
    Filtrat + CuSO4 + NaOH                   endapan jingga.
    Uji Cuprifield positif ditunjukkan dangan terbentuknya endapan jinnga.
    2.     Uji Kuantitatif
    a.     Sampel
    1)     Sampel yang segar di rebus dengan variasi waktukemudian dihancurkan dengan di blender.
    2)     Sampel yang telah di hancurkan di timbang lebih kurang 2gram dengan beckerglass, masukkan ke dalam erlenmeyer, timbang sisa sampel, kemudian tambahkan kurang lebih 10ml aquadest sampai homogen.
    3)     Tambah 2,5ml H2SO4 2N, titrasi dengan I2 sampai warna kuning pucat.
    4)     Tambah 2ml larutan amylum 1% terbentuk warna biru.
    b.    Standarisasi larutan Na2S2O3 dengan KIO3
    1)     Pipet 10,0ml KIO3 0,187N masukkan ke dalam erlenmeyer
    2)     Tambahkan 5ml H2SO4 2N
    3)     Tambahkan 10ml KI 10% tutup plastik
    4)     Titrasi dengan Na2S2O3 0,02N dari coklat kemerahan sampai kuning muda
    5)     Tambahkan 2ml larutan amylum 1% (larutan menjadi biru)
    6)     Titrasi dengan larutan Na2S2O3 0,02N sampai warna biru hilang.
    c.     Satndarisasi larutan I2 dengan standar Na2S2O3
    1)     Pipet 10,0ml Na2S2O3 masukkan ke dalam erlenmeyer
    2)     Titrasi dengan larutan sandar I2, sampai kuning pucat
    3)     Tambahkan 2ml larutan aylum 1% sampai terbentuk warna biru.

    d.    Penentuan kadar Vitamin C
    Kadar vitamin % b/b =  x 100%
    BE =
    (Mursydi, 2006)
    D.     Perhitungan Kadar
    Rumus  x 100%

    E.      Daftar Pustaka
    Farmakope Indonesia edisi III.hal 46.1979.Departemen kesehatan
    Mursydi, 2006