cLock

Kamis, 24 November 2011

Makalah Kepemimpinan

11
KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN
Nama               : Slamet Riyadi
Kelas               : 3C
Nim                 : 3011030104
A.    Latar Belakang Masalah
               Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke Bumi, Ia ditugasi sebagai Khalifah fil ardhi. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat”;  “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam menjadi Khalifah di muka Bumi”.
        Menurut Bachtiar Surin yang dikutif oleh Maman Ukas bahwa “Perkataan Khalifah berarti penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin sesuatu”.[1]
        Dari uraian tersebut jelaslah bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.
B.    Pembatasan Masalah
               Dalam penulisan makalah ini, penulis membatasi masalahnya sebagai berikut :
a.     Hakikat pemimpin
b.     Tipe-tipe kepemimpinan
c.     Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan.dalam manajemen pendidikan.

C.    Tujuan Penulisan Makalah
               Sesuai dengan permasalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penulisan ini diarahkan untuk :
a.     Untuk mengetahui hakikat pemimpin
b.     Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan
c.     Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.
       
D.    Sistematika Penulisan
               Sebagai langkah akhir dalam penulisan makalah ini, maka klasifikasi sistematikan penulisannya sebagai berikut :
               Bab I : Pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
               Bab II : Dibahas tentang tinjauan hakikat pemimpin, tipe-tipe kepemimpinan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.
               Bab III : Merupakan bab terakhir dalam penulisan makalah ini yang berisikan tentang kesimpulan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

A.    Hakikat Pemimpin
               “Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.”[2]  
               Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
4

               Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
B.    Tipe-Tipe Kepemimpinan
               Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :
1.      Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
2.      Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
3.      TIpe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
4.      Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.
5.      Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6.      Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.[3]

               Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :
1.      Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
2.      Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.
3.      Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.[4]

               Berdasarkan dari pendapat tersebut di atas, bahwa pada kenyataannya tipe kepemimpinan yang otokratis, demokratis, dan laissezfaire, banyak diterapkan oleh para pemimpinnya di dalam berbagai macama organisasi, yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dengan melihat hal tersebut, maka pemimpin di bidang pendidikan diharapkan memiliki tipe kepemimpinan yang sesuai dengan harapan atau tujuan, baik itu harapan dari bawahan, atau dari atasan yang lebih tinggi, posisinya, yang pada akhirnya gaya atau tipe kepemimpinan yang dipakai oleh para pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan benar-benar mencerminkan sebagai seorang pemimpinan yang profesional.

C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin Dalam Manajemen Pendidikan
               Dalam melaksanakan aktivitasnya bahwa pemimpin dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981) yang dikutif Nanang Fattah, sebagai berikut :
1.      Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.
2.      Harapan dan perilaku atasan.
3.      Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan.
4.      Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin.
5.      Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
6.      Harapan dan perilaku rekan.[5]

               Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi.
Selanjutnya peranan seorang pemimpin sebagaimana dikemukakan oleh M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
1.      Sebagai pelaksana (executive)
2.      Sebagai perencana (planner)
3.      Sebagai seorangahli (expert)
4.      Sebagai mewakili kelompok dalam tindakannya ke luar (external group representative)
5.      Sebagai mengawasi hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship)
6.      Bertindak sebagai pemberi gambaran/pujian atau hukuman (purveyor of rewards and punishments)
7.      Bentindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator)
8.      Merupakan bagian dari kelompok (exemplar)
9.      Merupakan lambing dari pada kelompok (symbol of the group)
10.  Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibility)
11.  Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (ideologist)
12.  Bertindak sebagai seorang aya (father figure)
13.  Sebagai kambing hitam (scape goat).[6]

Berdasarkan dari peranan pemimpin tersebut, jelaslah bahwa dalam suatu kepemimpinan harus memiliki peranan-peranan yang dimaksud, di samping itu juga bahwa pemimpin memiliki tugas yang embannya, sebagaimana menurut M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
1.      Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompoknya.
2.      Dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai.
3.      Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.[7]

Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain.
Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpian yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.





BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN
               Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
               Tipe-tipe kepemimpinan pada umumnya adalah tipe kepemimpinan pribadi, Tipe kepemimpinan non pribadi, tipe kepemimpinan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis, tipe kepemimpinan paternalistis, tipe kepemimpinan menurut bakat.               Disamping tipe-tipe kepemimpinan tersebut juga ada pendapat yang mengemukakan menjadi tiga tipe antara lain : Otokratis, Demokratis, dan Laisezfaire.             Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pemimpin meliputi ; kepribadian (personality), harapan dan perilaku atasan, karakteristik, kebutuhan tugas, iklim dan kebijakan organisasi, dan harapan dan perilaku rekan. Yang selanjutnya bahwa factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesuksesan pemimpin dalam melaksanakan aktivitasnya. 
11

Tugas pemimpin dalam kepemimpinannya meliputi ; menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok, dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai, meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.Pemimpin yang professional adalah pemimpin yang memahami akan tugas dan kewajibannya, serta dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
B.    Saran-saran
Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
1.      Hendaknya para pemimpin, khususnya pemimpin dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan aktivitasnya kepemimpinannya dalam mempengaruhi para bawahannya berdasarkan pada kriteria-kriteria kepemimpinan yang baik.
2.      Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
3.      Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
4.      Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.




DAFTAR PUSTAKA


Arief Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004).

Burhanuddin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Malang : Bumi Aksara, 1994).

Dadang Sulaeman dan Sunaryo, Psikologi Pendidikan, (Bandung : IKIP Bandung, 1983).

I.Nyoman Bertha, Filsafat dan Teori Pendidikan, (Bandung : FIP IKIP Bandung, 1983).

M. Ngalim Purwanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta : Mutiara Sumber-Sumber Benih Kecerdasan, 1981).

Maman Suherman, Pengembangan Sarana Belajar, (Jakarta : Karunia, 1986).

Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung : Ossa Promo, 1999).

Marsetio Donosepoetro, Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan Berpikir, (Surabaya : 1982).

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996).

Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional, (Bandung : Angkasa, 1983).

Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Konteporer, (Bandung : Alfabeta, 2005).

Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1995.



13





[1] Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung : Ossa Promo, 1999) h. 253.
[2] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996) h. 88.
[3] Maman Ukas, Op. cit., h. 261-262.

[4] Ibid, h. 262-263.
[5] Nanag Fattah, Op. cit., h. 102..
[6] M. Ngalim Purwanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta : Mutiara Sumber-Sumber Benih Kecerdasan, 1981) h. …

[7] Ibid, h. 38-39.
Posted on 22 Februari 2009 by Pakde sofa
Teori-teori dalam Kepemimpinan
Kegiatan manusia secara bersama-sama selalu membutuhkan kepemimpinan. Untuk berbagai usaha dan kegiatannya diperlukan upaya yang terencana dan sistematis dalam melatih dan mempersiapkan pemimpin baru. Oleh karena itu, banyak studi dan penelitian dilakukan orang untuk mempelajari masalah pemimpin dan kepemimpinan yang menghasilkan berbagai teori tentang kepemimpinan.
Teori kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan, persyaratan pemimpin, sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya serta etika profesi kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa segi antara lain :
Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan
Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa.
Sebab-sebab munculnya pemimpin
Ada beberapa sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain:
a.Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin.
Seseorang menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan sendiri
b.Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan tuntutan lingkungan
Syarat-syarat kepemimpinan
Konsepsi mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan.
Tipe dan gaya kepemimpinan
Pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian sendiri yang khas, sehingga tingkah laku dan gayanya berbeda dari orang lain.
Teori-teori dalam kepemimpinan pada umumnya menunjukkan perbedaan karena setiap teoritikus mempunyai segi penekanannya sendiri yang dipandang dari satu aspek tertentu.
Teori-teori dalam Kepemimpinan
1. Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
- pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
- sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif;
- kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
2. Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a. konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
b. berorientasi kepada bawahan dan produksi
perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan kerja.
Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)
3. Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu.
Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan berikut:
a. Model kontinuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri, ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas.Sedangkan pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Ciri kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baik disertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.
b. Model ” Interaksi Atasan-Bawahan” :
Menurut model ini, efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif, apabila:
* Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik;
* Tugas yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi;
* Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.
c. Model Situasional
Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah
* Memberitahukan;
* Menjual;
* Mengajak bawahan berperan serta;
* Melakukan pendelegasian.
d. Model ” Jalan- Tujuan ”
Seorang pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang dapat ditempuh bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut yaitu kejelasan tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada kepentingan dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan hal tersebut harus merupakan faktor motivasional bagi bawahannya.
e. Model “Pimpinan-Peran serta Bawahan” :
Perhatian utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.
Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan.

Dewasa ini manusia sering beranggapan bahwa pemimpin haruslah menjadi orang yang dihormati dan dilayani oleh para pengikutnya. Tanpa hak-hak spesial seperti itu, maka seorang dirasakan tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Akan tetapi, hal di atas tidak sesuai dengan konsep modern kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang melayani, sebab pemimpin yang melayani adalah seorang yang menggerakkan dan mentransformasi orang secara khas.

Seorang pemimpin bertugas merumuskan visi komunitasnya, kemudian menciptakan kondisi yang membuat komunitas atau organisasinya bergerak menuju visi tadi. Sementara ia dan pengikutnya bergerak mereka mengalami perubahan atau transformasi. Kemampuan untuk menimbulkan gerak dan transformasi terjadi karena berakar dari kepercayaan, baik yang berasal dari Pencipta dan manusia lainnya.

Teori tentang kepemimpinan yang melayani mulai muncul sejak tahun 1977 ketika R.K. Green Leaf menulis buku " Servant Leadership : A Journey Into the Nature of Legitamate Power and Greatness".

Seorang pemimpin yang melayani hanya dapat melakukan hal itu bila ia menghayati makna peran sebagai orang yang melayani. Ia melakukan hal itu karena ingin melayani orang-orang, ia terdorong untuk membuka kesempatan agar orang-orang disekitanya memiliki kebebasan lebih luas untuk berkembang atau mengalami transformasi. Dengan bahasa sederhana ia dapat menjadi pemimpin yang melayani bila memiliki hati yang melayani.

Secara definisi seorang yang melayani adalah seorang pemimpin yang sangat peduli atas pertumbuhan dan dinamika kehidupan pengikut, dirinya dan komunitasnya, karena itu ia mendahulukan hal-hal tersebut daripada pencapaian ambisi pribadi (personal ambitious) dan kesukaannya saja. Impiannya ialah agar orang yang dilayaninya tadi akan menjadi pemimpin yang melayani juga.

Seorang pemimpin yang matang akan menyadari bahwa pola atau gaya dan paradigmanya memang baik untuk masa dimana ia melayani, namun di masa depan corak lingkungan kerja, dinamika organisasi dan komunitasnya akan berbeda sehingga dibutuhkan suatu pendekatan, pola dan gaya kepemimpinan yang baru. Pemimpin yang berhasil juga memiliki kesadaran tentang life cycle atau daur hidup komunitas yang dipimpinnya. Ada masa lahir, masa pertumbuhan, ada masa puncak dan ada masa penurunan serta uzur. Pada setiap masa dibutuhkan corak kepemimpinan yang berbeda-beda. Kematangan seorang pemimpin juga akan terlihat dalam kesediaanya menerima fakta bahwa orang yang dipersiapkannya mungkin akan menentangnya, mengkritik kebijakannya dan mengubah banyak hal.

A. Pemahaman yang Keliru
Masih banyak orang mengartikan kepemimpinan sebagai kedudukan atau posisi yang tinggi. Oleh karena itu meraka berusaha dengan segala cara untuk menggapainya, termasuk dengan menghalalkan segala cara. Misalnya dengan membeli, menyikut lawan, menjilat atasan, dan lain sebagainya.
Sudah bisa dipastikan ketika pemahaman tentang leadership seperti itu, mereka akan menggunakan kekusaanya untuk memenuhi kepuasan mereka. Dan pada biasanya pemimpin seperti ini akan bersikap memaksakan kekuasaannya agar orang mengikutinya.
B. Pengertian Kepemimpinan (Leadership)
Leadership adalah sebagai proses mempengaruhi orang lain dalam rangka mencapai tujuan. Oleh karena itu salah satu hal yang perlu dimiliki ialah keahlian untuk bisa mempengaruhi orang lain agar tujuan yang hendak dicapai bisa terwujud dengan baik.
C. Fungsi kepemimpinan
Menurut R. Lassey menggolongkan pada dua bagian:
o Task Function adalah tugas yang dilaksanakan untuk memilih dan mencapai tujuan secara rasional.
o Maintenance Function adalah fungsi untuk menghasilkan kepuasan hidup dan pengembangan serta pemeliharan kelompok untuk melangsungkan hidupnya.
D. Tugas Kepemimpinan
Tugas pokok kepempinan adalah untuk menggerakkan sumber-sumber yang ada dalam organisasi secara efektif, efesien, dan terpadu dan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang efektif, kesempatan mengembangkan potensi, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
E. Model-model Kepemimpinan
v Tipe Otokratis , yaitu kebijakan ditentukan oleh pemimpin, organisasi dianggap milik pribadi.
v Tipe Demokratis, yaitu semua keputusan dan kebijakan dilakukan melalui diskusi dan musyawarah.
v Tipe Militerisme, yaitu menggerakkan bawahan dengan sistem pemerintahan, jabatan dan pangkat memegang peranan, formalitas berlebih-lebihan, disiplin tinggi, kaku, tidak mau dikritik.
v Tipe Paternalistik, yaitu bawahan belum dianggap dewasa, melindungi bawahan dengan berlebihan, bersikap maha tahu dan bawahan jarang diberi kesempatan.
v Tipe Kharismatik, yaitu pemimpin mempunyai daya tarik yang amat besar, memiliki kekuatan bathin, profil sangat dikagumi, mempesonakan bawahan.
v Tipe Kondisional, yaitu dapat berkembang dan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan. Tipe ini akan selalu mempertimbangkan banyak faktor sebelum mengambil keputusan dan perencanaan yang matang.
F. Karateristik Gaya Kepemimpinan
v Pemaksa, dengan ciri-ciri senang menghukum, tapi tidak suka memberi penghargaan.
v Pendobrak, mempunyai motivasi prestasi yang tinggi, tidak suka mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab, memiliki standar mutu yang tinggi, tapi tidak memiliki sifat pemimpin yang baik.
v Penguasa, mempunyai usul dan ide, yang secara halus dan terselubung, memberikan hukuman tapi tidak suka memberi penghargaan, suka mendengar umpan balik dari bawahan tapi uintuk kepentingan sendiri.
v Penyayang, suka memanjakan bawahan, tidak mempunyai rencana kerja, memberi penghargaan, tidak suka menghukum, tidak bisa mengatur pekerjaan sendiri.
v Demokrat,selalu mempunyai rencana kerja terperinci, memperhatikan bawahan, suka berdiskusi dengan bawahan, memberi penghargaan dan tidak suka menghukum.
v Pembina, menetapkan tujuan dengan jelas, memberikan motivasi dan tantangan, memberikan umpan balik, memberikan penghargaan juga hukuman, mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab, memberi bantuan kepada bawahan, dipercayai dan dihormati bawahan.
G. HAL-HAL YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG PEMIMPIN
v Memiliki karisma
Agar seseorang memiliki karisma maka ia harus:
* Perilakunya terpuji
* Jujur dan dapat dipercaya
* Memegang komitmen
* Memiliki konsep hidup yang kuat
* Konsisten dengan ucapannya
v Memiliki keberanian
Keberanian itu maksudnya adalah:
* Berani membela yang benar
* Berpegang teguh pada pendirian yang benar
* Tidak takut gagal
* Berani mengambil resiko
* Berani bertanggung jawab
v Mampu mempengaruhi orang lain
Ini merupakan hal penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Untuk bisa mempengaruhi orang lain maka ia harus,
* Membuat orang lain merasa penting
* Membantu kesulitan orang lain
* Mengemukakan wawasan dengan cara pandang positiv
* Tidak merendahkan orang lain
* Memiliki keahlian atau kelebihan
v Memiliki moral yang tinggi
Pemimpin merupakan panutan bagi yang dipimpin, oleh karena itu sudah seharusnya dia memiliki moral yang tinggi, yang diantaranya diwujudkan dengan:
* Tidak mau menyakiti orang lain
* Menghargai siapa saja
* Bersikap santun
* Tidak suka konflik
* Tidak mau memiliki yang bukan haknya
* Perkataannya terkendali
* Tindak tanduknya menjadi contoh
v Mampu membuat strategi
Untuk bisa membuat strategi, maka harus:
* Menguasai medan
* Memiliki wawasan luas
* Berpikir cerdas
* Kreatif dan inovatif
* Mampu melihat masalah secara komprehensif
* Mampu memprediksi masa depan
v Memiliki rasa humor
Maksud rasa humor di sini bukan lantas bahwa pemimpin itu pelawak. Akan tetapi maksudnya ialah seorang pemimpin bisa memberikan rasa senang pada orang yang dipimpin. Di antara rasa humor itu ialah:
* Murah senyum
* Setiap masalah dihadapi dengan wajah cerah
v Mampu menjadi motivator
Motivasi dalam hal apapun sangatlah penting. Oleh karena itu pemimpin juga harus memiliki jiwa sebagai seorang motivator, sehingga yang dipimpin bisa terus bersemangan menjalankan tugas. Di bawah ini bukti-bukti seseorang mempunyai jiwa motivator:
* Memiliki kepedulian pada orang lain
* Mampu menjadi pendengar yang baik
* Mengajak kepada kebaikan
* Mampu meyakinkan orang lain
* Berusaha mengerti keinginan orang lain
* Mampu berdiri di muka, di tengah atau di belakang.
v Mampu mengendalikan diri
Sebelum memimpin orang lain, seseorang pasti memimpin diri sendiri. Oleh karena itu seorang pemimpin juga harus bisa menjadi pemimpin yang baik bagi diri sendiri. Ini bisa diwujudkan dengan:
* Menjadikan hati nurani sebagai pelita hidup
* Mempu membedakan yang benar dan salah
* Mampu mengendalikan emosi
* Tidak serakah
* Tidak sombong
H. Penutup
Pemimpin mempunyai peran penting dalam sebuah organisasi. Tanpa mau menafikan yang lain, sesungguhnya baik dan buruk atau maju mundurnya sebuah organisasi ada di tangan pemimpin. Sehingga seorang yang menjadi pemimpin harus benar-banar mempunyai jiwa untuk jadi pemimpin yang baik.

Selasa, 15 November 2011

Klebsiella pneumoniae



Kingdom:Bacteria
Phylum:Proteobacteria
Class:Gamma Proteobacteria
Orde:Enterobacteriales
Family:Enterobacteriaceae
Genus:Klebsiella
Species:K. pneumoniae

Klebsiella pneumonia pertama kali ditemukan oleh Carl Friedlander. Carl Friedlander adalah patologis dan mikrobiologis dari Jerman yang membantu penemuan bakteri penyebab pneumonia pada tahun 1882. Carl Friedlander adalah orang yang pertama kali mengidentifikasi bakteri Klebsiella pneumonia dari paru-paru orang yang meninggal karena pneumonia. Karena jasanya,Klebsiella pneumonia sering pula disebut bakteri Friedlander. Klebsiella pneumonia adalah bakteri Gram negatif yang berbentuk
batang (basil). Klebsiella pneumonia tergolong bakteri yang tidak dapat melakukan pergerakan (non motil). Berdasarkan kebutuhannya akan oksigen, Klebsiella pneumonia
merupakan bakteri fakultatif an aerob.

Klebsiella pneumonia dapat memfermentasikan laktosa. Pada test dengan indol, lebsiella pneumonia akan menunjukkan hasil negatif. Klebsiella pneumonia dapat mereduksi nitrat. Klebsiella pneumonia banyak ditemukan di mulut, kulit, dan sal usus, namun habitat alami dari Klebsiella pneumonia adalah di tanah.

Klebsiella pneumonia dapat menyebabkan pneumonia. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Pneumonia yang disebabkan oleh
Klebsiella pneumonia dapat berupa pneumonia komuniti atau community acquired pnuemonia. Pneumonia komuniti atau community acquired pnuemonia adalah pneumonia yang di dapatkan dari masyarakat. Strain baru dari Klebsiella pneumonia dapat menyebabkan pneumonia nosomikal atau hospitality acquired pneumonia,
yang berarti penyakit peumonia tersebut di dapatkan saat pasien berada
di rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan.

Klebsiella pneumonia umumnya menyerang orang dengan kekebalan tubuh lemah, seperti
alkoholis, orang dengan penyakit diabetes dan orang dengan penyakit
kronik paru-paru.

Klebsiella pneumonia dapat menyebabkan penyakit karena mempunyai dua tipe antigen pada permukaan selnya:

• Antigen O
Antigen O adalah lipopolisakarida yang terdapat dalam
sembilan varietas.

• Antigen K
Antigen K adalah polisakarida yang dikelilingi oleh
kapsula dengan lebih dari 80 varietas.

Kedua antigen ini meningkatkan patogenitas Klebsiella pneumonia.
Selain itu, Klebsiella pneumonia mampu memproduksi enzim ESBL (Extended Spektrum Beta Lactamase) yang dapat melumpuhkan kerja berbagai jenis antibiotik. Hal ini dapat menyebabkan bakteri kebal dan menjadi sulit dilumpuhkan.

Cara penularan ( infeksi ) dari Klebsiella pneumonia pada pasien rawat inap dapat melalui 3 cara, yaitu :
1. Aspirasi cairan gaster atau orofaring yang mengandung
koloni kuman patogen.
2. Penyebaran kuman secara hematogen ke paru
3. Penyebaran melalui udara oleh aerosol atau
droplet yang mengandung mikroba.

Gejala-gejala seseorang yang terinfeksi Klebsiella pneumonia adalah napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pneumonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam, batuk-batuk, perubahan karakteristik dahak, suhu tubuh lebih dari 38 º C. Gejala yang lain, yaitu apabila pada pemeriksaan fisik ditemukan suara napas bronkhial, bronkhi dan leukosit lebih dari 10.000 atau kurang dari 4500/uL.

Pada pasien usia lanjut atau pasien dengan respon imun rendah, gejala pneumonia tidak khas, yaitu berupa gejala non pernafasan seperti pusing, perburukan dari penyakit yang sudah ada sebelumnya dan pingsan. Biasanya frekuensi napas bertambah cepat dan jarang ditemukan demam. Beberapa jenis Klebsiella pneumonia dapat diobati dengan antibiotik, khususnya antibiotik yang mengandung cincin beta-laktam.

Contoh antibiotik tersebut adalah ampicillin, carbenicillin, amoxicilline, dll.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa Klebsiella pneumonia memiliki sensitivitas 98,4% terhadap meropenem, 98,2% terhadap imipenem, 92,5% terhadap kloramfenikol, 80 % terhadap siprofloksasin, dan 2% terhadap ampisilin.
Strain baru dari Klebsiella pneumoniakebal terhadap berbagai jenis antibiotik dan sampai sekarang masih dilakukan penelitian untuk menemukan obat yang tepat untuk menghambat aktivitas atau bahkan membunuh bakteri tersebut.

Sabtu, 12 November 2011

AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH

1. Hamil di luar nikah akibat hubungan sex di luar nikah. Dosanya amat sangat besar sekali. Untuk yang belum nikah dicambuk 100 kali . Yang sudah menikah dirajam sampai mati. Jadi bagi yang berzina padahal sudah menikah tapi tidak dirajam, berarti ya mayat hidup. Sebetulnya mendekati zina saja sudah tidak boleh ( Al Qur’an Surat Al Isro’ ayat 32 )
2. Kehamilan di luar nikah pasti disesali dengan amat sangat. Kahadiran janin dalam kandungannya cenderung tidak dikehendaki. Suasana psikologis ibu ini akan mempengaruhi kejiwaan dan aspek lain bagi si bayi. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa janin di dalam kandungan telah mampu mengalami proses pendidikan lewat perasaan ibu, suara-2, do’a, dll.


3. Diawal kehamilan yang tidak dikehendaki itu dia berusaha untuk menutup-nutupi dengan berbagai sikap & prilaku yang menipu terhadap siapapun. Sikap & prilaku yang menipu ini lambat atau cepat akan mempengaruhi kwalitas janin dalam kandungan


4. Secara lahiriahpun tidak ada semangat untuk menjaga janin dalam kandungan dengan memakan gizi yang bagus, protein, vitamin , dll. Dengan demikian kondisi fisik janin tidak akan berkembang optimal.


5. Pada kehamilan yang wajar,  diantara kita ummat Islam saling mendo’akan akan kwalitas bayi nantinya, mudah proses kelahirannya, dsb. Tapi pada kehamilan di luar nikah rasanya do’a itu akan sulit terucap


6. Rasanya ibunya yang hamil di luar nikah juga berat untuk mendo’akan janin yang ada di dalam kandungannya.


7. Si Ibu yang hamil di luar nikah diliputi perasaan malu yang luar biasa. Sehingga hubungan sosialnya jadi terputus.


8. Yang lebih menyedihkan lagi seandainya sekolahnya juga terputus. Padahal di sekolahan dulu termasuk siswa/mahasiswa yang cerdas. Jadilah nantinya ibu yang tidak cerdas. Mendidik anak dalam ketidak-cerdasan.


9. Juga Bapak/Ibu dan saudara-2nya merasakan perasaan malu yang sangat luar biasa. Dan menyakiti orang tua/ keluarga. Apalagi seandainya kedua orang tuanya tokoh pengajian, tokoh masyarakat.


10. Korpsnya juga mengalami kepedihan yang mendalam. Perkumpulan pengajiannya, sekolahannya, jamaah masjidnya, institusi agamanya.


11. Pada hubungan sex di luar nikah rasanya juga tidak mungkin dengan persiapan wudhu dahulu, sholat dahulu, membaca do’a sebelum melakukan kewajiban suami istri. Pada hal kalau hubungan sex itu dalam pernikahan, dan sebelum melakukan hubungan sex wudhu dulu, insya Allah si bayi kelak  tidak akan diganggu syaitan


12. Setelah janin lahir perawatan yang intensif dari ibunya dengan penuh kasih sayang, bagaimanapun juga akan terganggu. Tidak seperti seandainya si anak terkandung dalam kehamilan di dalam pernikahan.


13. Ketika dalam rahim , si ibu sudah menolak. Setelah janin lahir, ibu juga menolak. Maka si anak akan menganggap seluruh manusia menolak kehadirannya. Tidak menerima kehadirannya. Ada kemungkinan perkembangan berikutnya, dia lemah kalah sampai bunuh diri. Atau dia kuat dan memusuhi semua manusia. Jadi trouble maker man.


14. Sikap masyarakat terhadap seseorang yang dulu lahirnya dengan kehamilan di luar nikah, bagaimanapun ada catatan-hitam ( Meskipun semuanya kita harus ingat; bahwa semua anak yang lahir adalah SUCI, Bapak/Ibunya yang nggak beres )


15. Apalagi seandainya sampai pada tahap pernikahan, hal ini akan mengalami hambatan yang cukup serius. Karena mungkin orang tua yang akan menjadi menantu keberatan seandainya anaknya mendapatkan pasangan dia yang dulu lahir di luar nikah


16. Saat pernikahanpun menyusahkan semua pihak. Semestinya saat sedang hamil tidak boleh melakukan aqod-nikah, tetapi dengan berbagai alasan pernikahan itu tetap dipaksakan. Ya nikahnya jadi tidak sah. Kalau suami istri tersebut berdua dalam satu kamar tidak boleh. Hubungan sexnya zina. Semestinya nikahnya setelah bayi lahir. Tapi apa mungkin. Maka nikahnya jadi dua kali saja. Yang pertama Cuma nikah-2an untuk penutup malu. Nanti saat bayi sudah lahir nikah lagi ( siri nggak apa-2 ). Waktu antara pernikahan yang pertama dan pernikahan ke dua status syar’inya belum suami-istri.


17. Amal soleh apapun semestinya ikhlas karena Allah. Akan tetapi suami istri yang menikah karena hamil dulu rasanya sangat sulit untuk niat pernikahannya karena Allah.


18. Anak yang lahir di luar nikah besuk kalau nikah walinya siapa ? Repot lagi.


19. Saat pembagian waris jadi masalah lagi. Dapat atau nggak dapat ?


20. Betapa rapuhnya rumah tangga yang berdiri diatas fondasi yang sangat lemah. Dan banyak rumah tangga yang semacam ini berakhir dengan perceraian. Kalau bercerai akibatnya lebih parah lagi, lebih-2 bagi anaknya.


21. Pada sisi si lelaki yang menghamili putri, dia telah melakukan penyiksaan kepada putri yang dihamili secara luar biasa, apalagi seandainya sampai lari dari tanggung jawab. Di samping yang telah kami kemukakan di atas, pada saat kehamilan putri akan mengalami berbagai rasa sakit mual-2, kemungkinan posisi bayi sungsang, juga saat melahirkan yang sudah tentu terasa sakit belum kalau harus cesar (lebih-2 karena tidak ada harapan indah). Putri tersebut betul-2 terdzalimi. Dan harap diketahui bahwa do’a orang yang terdzalimi ( biasanya do’a yang jelek ) kwalifikasi do’anya mudah kabul.


22. APA SEBAB TERJADI  HUBUNGAN SEX DI LUAR NIKAH ?  Karena ada perbedaan yang mendasar antara putra dan putri ketika memandang sex dan cinta . Putri main sex untuk cinta, sementara putra main cinta untuk sex


23. Dengan komposisi putra putri yang lebih banyak putri , kaum putri panik bagaimana caranya agar mampu mendapat putra. Sebab kalau dipasangkan satu-2 akan banyak putri yang tidak mendapat pasangan. Maka mereka menggunakan perangkap yang over-dosis, over-acting. .


24. Gizi untuk anak muda jaman sekarang sangat bagus, dorongan sex begitu menggelora. Sementara rangsangan sex lewat TV, internet, CD, Majalah, dll sangat buanyak sekali. Tetapi penyaluran yang suci dan mulya lewat pernikahan sering ditutup, kadang-2 oleh orang tuanya sendiri  dengan alasan masih terlalu muda. Jangan nikah dini, nikah senja saja; kalau sudah lulus kuliah, dapat kerja, punya rumah, dll.


25. Sementara pengawasan untuk anak-2 dari orang tua sangat lemah, dari masyarakat juga sangat lemah. Terutama dalam fenomena anak-kost, aspek pengawasan terasa sangat lemah sekali. Hubungan antara pemilik-kost dan anak-kost hanya sebatas antara pembeli dan penjual. Tidak sebagai orang tua dan anaknya.


26. Sikap dan prilaku putri semacam : Tidak berjilbab bahkan mini, sexy, transparan, pusarnya kelihatan. Pergi tanpa mukhrim. Bahkan dolan ke asrama putra. Pakai wewangian, dll adalah sikap putri yang mengundang malapetaka untuk dirinya sendiri. Ingat Yusuf-Zulaikha, Adam-Hawa, dll


27. Hubungan sex di luar nikah adalah puncak model-2 hubungan  di luar nikah yang terlarang semisal: Saling memandang, berdua dalam satu ruang, saling bersentuhan, dst. Karena yang puncak sudah dilalui maka ada kecenderungan bagi si lelaki untuk jemu dan sekaligus meninggalkan si putri


28. Semestinya kita jangan terjebak dalam : Nikmat membawa sengsara yang puanjuaaaaaang sekali.


29. Hubungan sex di luar nikah adalah bentuk ketidak-sabaran , dan ketidak-sabaran ini akibat dari kebodohan. Sebab orang yang berilmu insya Allah akan sabar. Dan tidak melakukan hubungan sex di luar nikah.


30. Nila setitik merusak susu sebelanga, sangat terasa dalam persoalan ini. Jangan sampai terjadi


31. Maryam ( Ibunya Nabi Isa as )pun amat sangat sedih ketika hamil di luar nikah. Padahal kehamilannya tidak didahului dengan hubungan sex di luar nikah. Maryam hamba Allah yang suci  ( QS Maryam ayat 19 sd 23 ).


32. Orang tua dari putri yang hamil di luar nikah harus introspeksi, pasti ada penyebab panjang sehingga ada akibat hamil di luar nikah pada anaknya


33. Ya, seandainya terlanjur hamil di luar nikah. Langkah berikutnya jangan melangkah dalam kebodohan. Yang sudah ya sudah. Langkah berikutnya harus melangkah yang baik yang di ridhoi Allah . Diperkecil kemungkinan dalam kemudhorotan. Jangan sampai lantas mengambil langkah aborsi misalnya. Kehamilannya dijaga sebaik-2nya. Didoai agar janin/bayinya dapat lebih baik .


34. Hubungan sex di luar nikah yang mengakibatkan hamil di luar nikah, sebenarnya tidak berproses dengan tiba-2. Ada  peristiwa-2 yang mendahului dalam bentuk “  mendekati-zina “. Untuk itu langkah-2 mendekati zina ini sudah dilarang ( Surat Al Isro ayat 32 ).


35. Putri yang hamil di luar nikah barangkali pernah terbuka atau sembunyi-2 menghina secara berlebih-lebihan seorang putri yang hamil di luar nikah, lantas dia kuwalat. Untuk itu seandainya kita mengetahui ada putri yang hamil di luar nikah, komentar yang insya Allah past : Na’udzubillhi min dzalik. Semoga kenyataan buruk itu tidak menimpa kita. Siapa tau dalam situasi yang sama, barangkali kita juga akan melaksanakan kesalahan yang sama ?!


36. Kemungkinan penyebab hamil di luar nikah sangat buanyak. Salah satu kemungkinan penyebabnya si Bapak dulu pernah menghamili di luar nikah atas putri lain, dan dia tidak bertanggung jawab. Maka lantas Allah membalas lewat anaknya hamil di luar nikah. Dan ini bukan dalam arti hukum karma, bukan. Atau orang tua si putri yang hamil di luar nikah pernah menghina dengan sangat zalim orang tua lain yang anaknya hamil di luar nikah.


37. Kurangnya pengetahuan  putri yang hamil di luar nikah tentang sex, disangkanya kalau cuma sekali dua kali tidak akan hamil. Untuk hamil harus dilakukan hubungan sex berkali-kali.


38. Seandainya anak tau bahwa dirinya product/hasil hubungan sex di luar nikah; maka sangat mungkin sekali si anak muncul perasaan-negatif yang bermacam-macam  semisal : Malu, rendah diri, hina, marah dengan orang tuanya, dll.


39. Persoalan akan semakin ruwet seandainya anak produk hamil di luar nikah tersebut mampu menjadi pejabat, guru.


Berikut beberapa masukan yang layak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan :
  • Pertama, kita mesti bertekad untuk tidak berdosa-apa pun itu keputusan yang akan diambil. Dengan kata lain, kita harus berkomitmen untuk tidak menambah dosa di atas dosa yang telah kita lakukan. Jadi, buanglah jauh-jauh pikiran untuk menggugurkan anak dalam kandungan. Keputusan memelihara anak adalah keputusan yang berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya, menggugurkan kandungan tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menciptakan anak-dari awal hingga lahir.
  • Kedua, kita mesti melihat kehamilan dari perspektif Allah sendiri. Tuhan menggunakan pelbagai cara untuk membawa seorang anak lahir ke dalam dunia. Sudah tentu, sewaktu kita berkata, Tuhan menggunakan pelbagai cara, itu tidak berarti bahwa semua cara adalah cara yang diperkenankan Tuhan. Tidak! Seperti anak yang lahir di luar nikah, kendati hubungan itu sendiri adalah dosa namun anak yang dikandung berada dalam kehendak Allah. Itu sebabnya kita mesti memisahkan hubungan atau penyebab lahirnya anak dan anak itu sendiri. Roma 8:28 memberi kita kejelasan akan cara kerja Allah yang sempurna.
  • Ketiga, kita harus selalu memertimbangkan dampak jangka panjangnya. Janganlah memutuskan untuk langsung menikah hanya karena kita hamil bila kita memang belum siap menikah. Pernikahan yang tidak dikehendaki-terpaksa menikah karena kehamilan-hampir dapat dipastikan akan menjadi pernikahan bermasalah. Jadi, jangan menyelesaikan masalah dengan cara menciptakan masalah baru.
  • Keempat, jika memang kita belum siap menikah, putuskanlah untuk mengandung dan melahirkan anak-di luar pernikahan. Dalam hal ini silakan cari orang tua yang tengah mencari anak untuk diadopsi atau hubungi lembaga adopsi. Kita juga dapat menghubungi pelayanan Kristiani yang menampung ibu yang hamil di luar nikah. Atau, pilihan akhir adalah kita merawat dan membesarkan anak itu sendiri. Semua pilihan ini memang memerlukan pengorbanan namun pada akhirnya kita tahu bahwa kita telah menyelesaikan masalah dengan cara yang terbaik dan berkenan kepada Tuhan.
  • Kelima, evaluasi ulang relasi kita dengan pacar. Tidak jarang lewat kehamilan kita memperoleh pengertian yang lebih mendalam dan tepat akan siapakah dia. Sudah tentu pengertian ini bisa bersifat positif ataupun negatif. Sekali lagi, selalu pertimbangkan dampak jangka panjang. Ingat, tidak ada keharusan buat kita menikah dengan dia; jadi, bila pada akhirnya kita tahu bahwa dia memang bukanlah pasangan hidup yang sesuai, akhirilah hubungan itu.
  • Keenam, oleh karena kita telah berjalan dalam kehendak Tuhan dan bertindak bijaksana, kita pun dapat memperoleh keyakinan bahwa Tuhan akan terus menuntun langkah hidup kita. Jangan takut akan masa depan. Jika memang Ia berkehendak kita menikah, kita akan menikah. Ia akan menyediakan seseorang yang dapat mengasihi dan menerima kita apa adanya. Sebaliknya, bila memang Tuhan berkehendak lain, Ia akan memampukan kita hidup untuk-Nya sebagai lajang. Satu hal yang mesti kita camkan adalah bahwa Tuhan memberi kita kesempatan kedua. 

Kamis, 03 November 2011

Napza


1.  Test urin pada kasus penyalah gunaan obat?
Jawab :
Pemeriksaan urin adalah penunjang dalam menetapkan diaonosis dan membantu memantau program tindak lanjut, apakah seseorang tetap bersih, atau memakai narkoba lagi. Adanya narkoba dalam tubuh dapat dideteksi melalui pemeriksaan urin (air seni) yang disebut Urinalisis. Jenis narkoba yang dapat di deteksi adalah opiat(heroin), amfetamin(akstasi, sabu-sabu), benzodiazepine (DUM, BK, MG, Ropyn, dan lain-lain), dan kanabis (ganja). Ada juga yang dapat mendeteksi kokain dan barbiturate.
Pemeriksaan air seni dapat dilakukan dengan menggunakan methode Dipstick atau Thin Layer Chromatography (TLC). Akan tetapi, cara ini kurang sesitif, misalnya bila penggunaan zat tersebut sangat sedikit. TLC ada yang dapat memeriksa beberapa jenis zat psikoaktif sekaligus, ada pula yang hanya satu jenis tes untuk satu jenis psikoaktif. Pengembalian air seni pada TLC dapat dilakukan setiap saat, tidak perlu pagi hari.
Kadang-kadang dapat terjadi hasil false negative walaupun ia memakai zat / narkoba, ataupun false positive walaupun ia tidak memekai narkoba. Hal itu berkaitan dengan masalah teknis, dan bukan pada lama pemakaian. Pengumpulan urin harus di awasi sendiri, karena pecandu umumnya tau cara mengelabui pemeriksaan urin dengan mengencerkannya, memberikan urin orang lain atau hewan. Oleh karena itu, pemeriksaan urin harus di awasi sendiri.

2.  Gejala ketergantungan obat?
Jawab :
1. Opiat (heroin, morfin, ganja)
perasaan senang dan bahagia,  acuh tak acuh (apati), malas bergerak, mengantuk, rasa mual, bicara cadel, pupil mata mengecil (melebar jika overdosis), gangguan perhatian/daya ingat.
2. Ganja
rasa senang dan bahagia, santai dan lemah, acuh tak acuh, mata merah, nafsu makan meningkat, mulut kering, pengendalian diri kurang, sering menguap/ngantuk, kurang konsentrasi, depresi.
3. Amfetamin (shabu, ekstasi)
kewaspadaan meningkat, bergairah, rasa senang, bahagia, pupil mata melebar, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, sukar tidur/ insomnia, hilang nafsu makan 
4. Kokain
denyut jantung cepat, agitasi psikomotor/gelisah, euforia/rasa gembira berlebihan, rasa harga diri meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, kejang, pupil (manik mata) melebar, tekanan darah meningkat, berkeringat/rasa dingin, mual/muntah, mudah berkelahi, psikosis, perdarahan darah otak, penyumbatan pembuluh darah, nystagmus horisontal/mata bergerak tak terkendali, distonia (kekakuan otot leher) .
5. Alkohol
bicara cadel, jalan sempoyongan, wajah kemerahan, banyak bicara, mudah marah, gangguan pemusatan perhatian, nafas bau alkohol.
6. Benzodiazepin (pil nipam, BK, mogadon)
bicara cadel, jalan sempoyongan, wajah kemerahan, banyak bicara, mudah marah, gangguan pemusatan perhatian.

3.  Obat - obatan yang sering di gunakan pecandu?
 Jawab :  
a.    Opium
Opium adalah jenis narkotika yang paling berbahaya. Dikonsumsi dengan cara ditelan langsung atau diminum bersama teh, kopi atau dihisap bersama rokok atau syisya (rokok ala Timur Tengah). Opium diperoleh dari buah pohon opium yang belum matang dengan cara menyayatnya hingga mengeluarkan getah putih yang lengket.
Pada mulanya, pengonsumsi opium akan merasa segar bugar dan mampu berimajinasi dan berbicara, namun hal ini tidak bertahan lama. Tak lama kemudian kondisi kejiwaannya akan mengalami gangguan dan berakhir dengan tidur pulas bahkan koma.

Jika seseorang ketagihan, maka opium akan menjadi bagian dari hidupnya. Tubuhnya tidak akan mampu lagi menjalankan fungsi-fungsinya tanpa mengonsumsi opium dalam dosis yang biasanya. Dia akan merasakan sakit yang luar biasa jika tidak bisa memperolehnya. Kesehatannya akan menurun drastis. Otot-otot si pecandu akan layu, ingatannya melemah dan nafsu makannya menurun. Kedua matanya mengalami sianosis dan berat badannya terus menyusut.
b.    Morphine
Orang yang mengonsumsi morphine akan merasakan keringanan (kegesitan) dan kebugaran yang berkembang menjadi hasrat kuat untuk terus mengonsumsinya. Dari sini, dosis pemakaian pun terus ditambah untuk memperoleh ekstase (kenikmatan) yang sama.
Kecanduan bahan narkotika ini akan menyebabkan pendarahan hidung (mimisan) dan muntah berulang-ulang. Pecandu juga akan mengalami kelemahan seluruh tubuh, gangguan memahami sesuatu dan kekeringan mulut. Penambahan dosis akan menimbulkan frustasi pada pusat pernafasan dan penurunan tekanan darah. Kondisi ini bisa menyebabkan koma yang berujung pada kematian.
c.    Heroin
Bahan narkotika ini berbentuk bubuk kristal berwarna putih yang dihasilkan dari penyulingan morphine. Menjadi bahan narkotika yang paling mahal harganya, paling kuat dalam menciptakan ketagihan (ketergantungan) dan paling berbahaya bagi kesehatan secara umum.
Penikmatnya mula-mula akan merasa segar, ringan dan ceria. Dia akan mengalami ketagihan seiring dengan konsumsi secara berulang-ulang. Jika demikian, maka dia akan selalu membutuhkan dosis yang lebih besar untuk menciptakan ekstase yang sama. Karena itu, dia pun harus megap-megap untuk mendapatkannya, hingga tidak ada lagi keriangan maupun keceriaan. Keinginannya hanya satu, memperoleh dosis yang lebih banyak untuk melepaskan diri dari rasa sakit yang tak tertahankan dan pengerasan otot akibat penghentian pemakaian.
Pecandu heroin lambat laun akan mengalami kelemahan fisik yang cukup parah, kehilangan nafsu makan, insomnia (tidak bisa tidur) dan terus dihantui mimpi buruk. Selain itu, para pecandu heroin juga menghadapi sejumlah masalah seksual, seperti impotensi dan lemah syahwat. Sebuah data statistik menyebutkan, angka penderita impotensi di kalangan pecandu heroin mencapai 40%.
d.    Codeine
Codeine mengandung opium dalam kadar yang sedikit. Senyawa ini digunakan dalam pembuatan obat batuk dan pereda sakit (nyeri). Perusahaan-perusahaan farmasi telah bertekad mengurangi penggunaan codeine pada obat batuk dan obat-obat pereda nyeri. Karena dalam beberapa kasus, meski jarang, codeine bisa menimbulkan kecanduan.
e.    Kokain
Kokain disuling dari tumbuhan koka yang tumbuh dan berkembang di pegunungan Indis di Amerika Selatan (Latin) sejak 100 tahun silam. Kokain dikonsumsi dengan cara dihirup, sehingga terserap ke dalam selaput-selaput lendir hidung kemudian langsung menuju darah. Karena itu, penciuman kokain berkali-kali bisa menyebabkan pemborokan pada selaput lendir hidung, bahkan terkadang bisa menyebabkan tembusnya dinding antara kedua cuping hidung.
Problem kecanduan kokain terjadi di Amerika Serikat, karena faktor kedekatan geografis dengan sumber produksinya. Dengan proses sederhana, yakni menambahkan alkaline pada krak, maka pengaruh kokain bisa berubah menjadi sangat aktif. Jika heroin merupakan zat adiktif yang paling banyak menyebabkan ketagihan fisik, maka kokain merupakan zat adiktif yang paling bayak menyebabkan ketagihan psikis.
Setiap tahun, Amerika Serikat membelanjakan anggaran 30 miliar dollar untuk kokain dan krak. Tak kurang dari 10 juta warga Amerika mengonsumsi kokain secara semi-rutin. Pemakaian kokain dalam jangka pendek mendatangkan perasaan riang-gembira dan segar-bugar. Namun beberapa waktu kemudian muncul perasaan gelisah dan takut, hingga halusinasi.
Penggunaan kokain dalam dosis tinggi menyebabkan insomnia (sulit tidur), gemetar dan kejang-kejang (kram). Di sini, pecandu merasa ada serangga yang merayap di bawah kulitnya. Pencernaannya pun terganggu, biji matanya melebar, dan tekanan darahnya naik. Bahkan terkadang bisa menyebabkan kematian mendadak.
f.      Amfitamine
Obat ini ditemukan pada tahun 1880. Namun, fakta medis membuktikan bahwa penggunaannya dalam jangka waktu lama bisa mengakibatkan risiko ketagihan. Pengguna obat adiktif ini merasakan suatu ekstase dan kegairahan, tidak mengantuk, dan memperoleh energi besar selama beberapa jam. Namun setelah itu, ia tampak lesu disertai stres dan ketidakmampuan berkonsentrasi, atau perasaan kecewa sehingga mendorongnya untuk melakukan tindak kekerasan dan kebrutalan.
Kecanduan obat adiktif ini juga menyebabkan degup jantung mengencang dan ketidakmampuan berelaksasi, ditambah lemah seksual. Bahkan dalam beberapa kasus menimbulkan perilaku seks menyimpang. Termasuk derivasi (turunan) obat ini adalah obat yang disebut “captagon”. Obat ini banyak dikonsumsi oleh para siswa selama musim ujian, padahal prosedur penggunaannya sebenarnya sangat ketat dan hati-hati.
g.    Ganja
Ganja memiliki sebutan yang jumlahnya mencapai lebih dari 350 nama, sesuai dengan kawasan penanaman dan konsumsinya, antara lain; mariyuana, hashish, dan hemp. Adapun zat terpenting yang terkandung dalam ganja adalah zat trihidrocaniponal (THC).
Pemakai ganja merasakan suatu kondisi ekstase yang disertai dengan tawa cekikikan dan terkekeh-kekeh tanpa justifikasi yang jelas. Dia mengalami halusinasi pendengaran dan penglihatan. Berbeda dengan peminum alkohol yang terkesan brutal dan berperilaku agresif, maka pemakai ganja seringkali malah menjadi penakut.
Dia mengalami kesulitan mengenali bentuk dan ukuran benda-benda yang terlihat. Pecandunya juga merasakan waktu berjalan begitu lambat. Ingatannya akan kejadian beberapa waktu yang lalu pun kacau-balau. Matanya memerah dan degup jantungnya kencang. Jika berhenti mengonsumsi ganja, dia akan merasa depresi, gelisah, menggigil dan susah tidur. Namun kecanduan ganja biasanya mudah dilepaskan. Dalam jangka panjang, pecandu ganja akan kehilangan gairah hidup. Menjadi malas, lemah ingatan, bodoh, tidak bisa berkonsentrasi dan terdorong untuk melakukan kejahatan.

4.  Terapi ketergantungan obat?
Jawab :
Terapi detoksifikasi ini berlaku tidak hanya untuk opiat (heroin/“putaw”) saja, melainkan juga berlaku untuk zat-zat lainnya seperti cannabis (ganja), kokain, alkohol (minuman keras), amphetamine (“shabu-shabu”, ekstasi, inex) dan zat adiktif lainnya. Detoksifikasi (membuang racun) dengan menggunakan Obat Narkoba.
Terapi  terhadap  gangguan  sistem  neuro-transmitter susunan saraf pusat otak yang menyebabkan gangguan mental dan perilaku. (HF merupkan obat narkoba yang bekerja pada sistem kelenjar saraf di otak)
Terapi medik : Diberikan jenis obat anti psikotik  yang ditujukan terhadap gangguan  sistem neuro-transmitter susunan saraf pusat (otak). Diberikan pula analgetika non opiat (obat anti nyeri yang tidak mengandung opiat atau turunannya / golongan NSAID), tidak diberikan obat-obatan yang bersifat adiktif. Diberikan obat anti depresi. Bila ditemukan komplikasi pada organ   paru, lever dan lainnya, diberikan obat sesuai dengan kelainan dari organ tersebut (terapi somatik).
Terapi psikiatrik/psikologik :Selain diberikan obat di bidang psikiatri yaitu golongan anti psikotik dan anti depresi tersebut di atas, juga diberikan konsultasi psikiatrik / psikologik kepada yang bersangkutan dan keluarganya.
Terapi Sosial : Menjaga lingkungan dan pergaulan sosial. Kalau anda bergaul dengan tukang kembang, akan ikut wangi; tetapi kalau bergaul dengan tukang ikan akan ikut amis.
Terapi agama, diberikan sesuai dengan keimanan masing-masing untuk menyadarkan bahwa NAZA haram hukumnya dari segi agama maupun UU. Prinsipnya adalah berobat dan bertobat sebelum ditangkap; berobat dan bertobat sebelum maut menjemput.
Terapi bekam, dapat melakukan detoksifikasi akibat narkoba. Bekam akan mengeluarkan darah kotor dan toksin yang ada sehingga pasien akan menjadi bersih dan sehat kembali. Untuk terapi ini memang tidak mudah, dan butuh waktu beberapa kali pertemuan sampai si racun sudah hilang dan bersih dari tubuh. Namun ketika tubuh sudah bersih dari racun maka akan terjadi perbaikan kesehatan si pasien tersebut.










Sumber Pustaka
Badan narkotika nasional.2007.Pencegahan penyalahgunaan narkoba sejak usia dini.jakarta timur : pusat dukungan pencegahan BNN