cLock

Kamis, 23 Juni 2011

BAKTERIOLOGI






DESINFEKTEN & DESINFEKSI


Oleh :
Asri Wulandari            A101.14.006

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL
SURAKARTA
2011






Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Semesta Alam karena atas izin dan kehendakNya jualah makalah sederhana ini dapat saya rampungkan tepat pada waktunya.
Penulisan dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bakteriologi. Adapun yang saya bahas dalam makalah sederhana ini mengenai Desinfektan & Desinfeksi.
Dalam penulisan makalah ini saya menemui berbagai hambatan yang dikarenakan terbatasnya Ilmu Pengetahuan saya mengenai hal yang berkenan dengan penulisan makalah ini. Oleh karena itu sudah sepatutnya saya berterima kasih kepada dosen pembimbing kami yakni Bp.Didik Wahyudi  yang telah memberikan limpahan ilmu berguna kepada saya.
Saya menyadari akan kemampuan saya yang masih amatir. Dalam makalah ini saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi saya yakin makalah ini masih banyak kekurangan disana-sini. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan juga kritik membangun agar lebih maju di masa yang akan datang.
Harap saya, makalah ini dapat menjadi track record dan menjadi referensi bagi saya dalam mengarungi masa depan. Saya juga berharap agar makalah ini dapat berguna bagi orang lain yang membacanya.
Surakarta, Juni 2011
Penulis







BAB I

Pendahuluan
            Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida.
Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.










BAB II

ISI
Desinfeksi adalah usaha untuk memusnahkan mikroorganisme denga menggunakan zat-zat kimia tertentu. Desinfektan adalah zat kimia yang digunakan untuk mendesinfeksi. Istilah desinfeksi dulu dipakai hanya untuk menyatakan usaha untuk memusnahkan kuman yang patogen saja. Usaha desinfeksi dapat bersifat sterilisasi sempurna atau menghambat pertumbuhan mikroba. Hal ini tergantung pada jenis desinfektan, kadar desinfektan.lamanya kontak desinfektan yang diuji dan bahan yang akan di desinfeltan. Jadi pengaruh desinfeksi terhadap mikroorgansime dapat mikrobisoda dan mikrobistatika (Dwidjoseputro 1994 : 87).
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat disinfeksi secara kimia adalah rongga atau space yang cukup diantara alat-alat yang akan didisinfeksi, sehingga seluruh permukaan alat-alat tersebut dapat berkontak dengan disinfektan. Sebaiknya disinfektan yang dipakai bersifat membunuh atau disebut juga germiade. Waktu atau lamanya disinfeksi harus tepat, alat-alat yang didisinfeksi jangan diangkat sebelum waktunya. Solusi yang biasa dipakai untuk membunuh spora kuman biasanya bersifat sangat mudah menguap sehingga ventilasi ruangan harus diperhatikan dan juga pengenceran disinfektan harus sesuai dengan yang dianjurkan dan setiap kali harus dibuat pengenceran baru       (Staf Pengajar Fakultas Kedokteran UI 1993 : 40).
Nilai suatu zat yang digunakan sebagai desinfektan tergantung pada sejumlah faktor yang boleh dikatakan tidak ada satu pun desinfektan dapat memenuhi seluruhnya. Suatu desinfektan yang ideal seharusnya mempunyai sifat-sifat berikut :
1.        Mempunyai efektivitas yang tinggi terhadap sejumlah besar mikroorganisme dalam konsetnrasi sedemikian rendahnya.
2.        Tidak merusak dan tidak mewarnai bahan-bahan seperti pakaian, bahan-bahan yang terbuat dari logam, bau dan tidak menyengat.
3.        Tidak hilang keaktifannya oleh bahan-bahan dari luar.
4.        Merupakan zat penegang permukaan yang baik.
5.        Stabil dalam penyimpanan.
6.        Mudah didapat dan tidak mahal. (Irianto 2007 : 81)

Mikrobakteri adalah sejenis kuman yang dapat tahan terhadap beberapa disinfektan, bahkan tidak sedikit yang resisten terhadap antimicro tuberculosis. Penggunaan disinfektan semua benda yang telah terkontaminasi dengan mikrobakteri haruslah disinfektan. bahan yang biasa di gunakan dalam desinfektan  adalah zat kimia yang mematikan sel-sel vegetatif dari mikrobia, akan tetapi belum tentu mematikan bentuk-bentuk spora mikrobia penyebab penyakit. Sedangkan disinfeksi adalah suatu proses penghancuran sel-sel vegetatif penyebab infeksi namun tidak selalu mematikn sporanya dan pengendalian mikroorganisme dengan bahan kimia lain, yaitu dengan antiseptik yang merupakan suatu substansi yang dapat melawan infeksi atau mencegah pertumbuhan atau kerja mikroorganisme dengan cara menghancurkan mereka atau menghambat pertumbuhan serta aktivitasnya (Pelczar & Chan 1996 : 140).
Pada umumnya bakteri yang kecil atau masih muda itu kurang daya tahannya terhadap desinfektan dari pada bakteri tua. Pekat encernya konsentrasi, lamanya berada di bawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor dan ciri yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan temperature atau suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat yang lain yag serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu         (Dwidjoseputro 1998 : 95).
Keaktifan suatu disinfektan bergantung pada lama tidaknya waktu kontak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Volk (1993 : 223) bahwa dalam penggunaan disinfektan keefektifannya bergantung pada waktu kontak. Reaksi-reaksi kimia atau fisika yang akan terjadi memerlukan waktu yang cukup untuk bergabung dan waktu yang diperlukan ini bergantung pada sifat disinfektan, konsentrasi, pH, suhu, dan sifat organisme yang dihadapi dan perlu diperhatikan bahwa sel-sel dalam populasi bakteri memiliki kesensitifan yang berbeda-beda terhadap disinfektan. Pada penggunaan yodium yang berfungsi untuk mendisinfeksi berbagai barang atau peralatan tertentu. Yodium mempunyai kelebihan terhadap klor, terutama dalam hubungannya dengan aktivitasnya pada kisaran pH yang berbeda-beda, karena keasaman atau alkalinitas mempunyai pengaruh yang kurang terhadap keefektifannya.






BAB III
Penutup
Macam-macam desinfektan yang digunakan:
1.      Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit
2.      Aldehid
Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat. Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.
3.      Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak
. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.
4.      Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).
5.      Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.
6.      Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas
Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derivate fenol atau sodium hipokrit :
  • Iodophor dilarutkan menurut petunjuk pabrik. Zat ini harus dilarutkan baru setiap hari dengan akuades. Dalam bentuk larutan, desinfektan ini tetap efektif namun kurang
6
efektif bagi kain atau bahan plastik.
  • Derivat fenol (O-fenil fenol 9% dan O-bensil-P klorofenol 1%) dilarutkan dengan perbandingan 1 : 32 dan larutan tersebut tetap stabil untuk waktu 60 hari. Keuntungannya adalah “efek tinggal” dan kurang menyebabkan perubahan warna pada instrumen atau permukaan keras.
  • Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan perbandingan 1 : 10 hingga 1 : 100, harganya murah dan sangat efektif. Harus hati-hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat korosif, terutama untuk aluminium. Kekurangannya yaitu menyebabkan pemutihan pada pakaian dan menyebabkan baru ruangan seperti kolam renang.
Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas “tingkat menengah” bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.







Daftar Pustaka

0 komentar:

Posting Komentar